Kamis, 15 November 2012

Greening Business

The rise of a slogan smelling environmentally friendly (go green), which recently began in earnest, making the business initiative to develop a business process activities that are environmentally friendly. The company's strategy for the future of the business and a better environment. Many business strategies created by the business to support all business processes that are running, for example by linking the slogan "environmentally friendly" in the whole business process, from the supply of raw materials, production processes, end processes, to distribution to the consumer. Any business strategy will be discussed below this is now better known as a green business (Greening Business).

Bisnis Hijau

Menurut kementerian lingkungan hidup Republik Indonesia, untuk menciptakan suatu proses bisnis yang ramah lingkungan, perlu adanya strategi yang tepat. strategi tentang proses bisnis ramah lingkungan tersebut lebih dikenal dengan Greening business management. “Greening business management” adalah strategi pengelolaan lingkungan yang terpadu yang meliputi pengembangan struktur organisasi, sistem dan budidaya dalam suatu kompetensi hijau dengan cara menerapkan dan mentaati seluruh peraturan tentang pengelolaan lingkungan, termasuk pengelolaan bahan baku, pengolahan limbah, penggunaan sumberdaya alam yang efektif, penggunaan teknologi produksi yang menghasilkan limbah minimal serta menerapkan komitmen kesadaran lingkungan bagi seluruh karyawan dalam organisasinya. Berdasarkan pengalaman dari beberapa industri, maka ada 4 alasan yang menjadi penyebab industri harus meletakan masalah lingkungan sebagai aspek yang penting dalam usahanya, yaitu:

1. Lingkungan dan efisiensi

Dengan adanya kesadaran bahwa sumber daya alam (materi dan energi) sangat terbatas, maka apapun juga harus dilakukan untuk mengurangi penggunaannya. Oleh sebab itu industri harus mengupayakan daur ulang dan melakukan efisiensi dalam penggunaan setiap material dan energi dalam proses produksinya, yang mana hal tersebut mempunyai implikasi pada pengurangan biaya produksi. 

2. “Image” lingkungan

Mempunyai sikap positif terhadap lingkungan merupakan suatu hal yang baik untuk dapat menumbuhkan “image” yang selanjutnya untuk memperbesar “market share”. Memperluas pasar dengan “greening image” akan tercapai apabila konsumen telah bernuansa “hijau” pula . Hal ini dapat dimulai dengan meng”hijau”kan karyawan dari perusahaan itu sendiri, sehingga muncul image “perusahaan hijau”, kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat dengan memasarkan “produk hijau”.

3. Lingkungan dan peluang pasar

Dengan adanya tuntutan pasar terhadap pelaku Bisnis dan dunia usaha dalam hal sistem menajemen lingkungan (sml), yang selanjutnya dikembangkan menjadi pemberian sertifikasi ISO 14001, maka hal ini memberikan dampak positif pada dunia usaha. Bisnis dalam bidang instalasi pengolahan limbah, peralatan pengendalian pencemaran udara, teknologi daur ulang, desain “containers” kemasan merupakan suatu peluang pada masa transisi pengelolaan lingkungan dari strategi “end-off pipe treatment’ menjadi “waste reduction at source”.

4. Ketaatan terhadap peraturan lingkungan

Meskipun “law enforcement” pemerintah masih lemah, namun demikian apabila terjadi pelanggaran dalam pengelolaan lingkungan ataupun adanya pengaduan masyarakat akibat dampak dari suatu aktivitas industri, maka akan berdampak negatif terhadap reputasi industri tersebut.Selain itu organisasi lingkungan lokal dan internasional akan bereaksi keras apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan lingkungan. Oleh sebab itu ketaatan terhadap setiap peraturan lingkungan secara proaktif sangat dianjurkan agar peluang untuk memperluas pasar dan sasaran dari bidang usaha tidak terganggu.

Dari pemaparan  diatas, kita dapat melihat betapa perlunya suatu proses bisnis ramah lingkungan diterapkan agar istilah  Corporate Social  Responsibility (CSR)  tidak hanya menjadi sekedar trend sosial, namun merupakan langkah nyata  yang  berkelanjutan untuk menciptakan ekonomi yang lebih ramah lingkungan . Sehingga, strategi bisnis yang mungkin dapat dilakukan dalam menciptakan proses bisnis yang ramah lingkungan guna memenuhi CSR perusahaan adalah dengan beberapa hal seperti :

1. prinsip, suatu perusahaan harus memiliki visi untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan . Dengan adanya visi ini,  kemudian perusahaan akan menerapkan misi perusahaan yang dijabarkan dalam kebijakan dan strategi bisnis yang prolingkungan. Misalnya, Visi perusahan adalah menjadi perusahaan terkemuka yang peduli terhadap lingkungan maka misinya yaitu salah satunya melakukan kegiatan produksi yang peduli terhadap perubahan iklim dengan mengurangi pemakaian energi dan penggunaan bahan kimia dalam produknya.

2. proses, yaitu segala kegiatan proses bisnis dalam suatu organisasi atau perusahaan dilakukan dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan,  beroperasi di tempat yang ramah lingkungan (misalnya, gedung yang didesain hijau dengan melakukan penghijauan disekitarnya),  proses bisnis lain yang tidak merusak lingkungan (pengelolaan limbah yang tepat bagi proses bisnis industri) . Bahkan, dapat memanfaatkan energi alternatif, menekan konsumsi energi, mengurangi emisi, atau menggunakan bahan daur ulang.

3. produk, yaitu menghasilkan produk/jasa yang tidak merusak alam atau bila memungkinkan dapat menghasilkan produk yang bisa didaur ulang dan digunakan kembali. 

4.  promosi, yaitu mengampanyekan posisi perusahaan atas proses bisnis prolingkungan yang secara konsisten telah dijalankan oleh organisasi atau perusahaan tersebut.

Dermikianlah strategis bisnis yang mungkin dapat dijalankan oleh perusahaan untuk menciptakan suatu proses bisnis yang ramah lingkungan. Membangun bisnis hijau memang harus kian digencarkan. Sebab, faktanya perubahan iklim semakin kacau,  populasi terus membengkak sementara sumber daya alam terus berkurang karena terus-menerus dikuras.


 Referensi
 How to Green Your Business. Alexandria, United States, Alexandria: Entrepreneur's Organization, 2011    ProQuest Entrepreneurship.






Sabtu, 06 Oktober 2012

Application of the contract processes sharia business

During development, some business processes are based on the Sharia system. Some people have the view that the Islamic business is the best business processes to be applied so that the Islamic finance are now beginning to emerge. System for mutually beneficial outcomes and system implementation in accordance with the rules of Islam has given added value to the business processes of sharia. The existence of the contract in the business process characteristics to make Islamic sharia business processes, there's even some business processes that have been applied on the contract agreement.


Akad dalam proses bisnis syariah merupakan suatu hal yang tidak bisa dilewatkan. Akad inilah yang nantinya akan memeberikan penjelasan atas kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua pihak yang terlibat dalam suatu proses bisnis. Suatu akad dalam proses bisnis juga memberikan penjelasan tentang hak dan kewajiban yang telah didapat oleh masing-masing pihak yang harus saling dihormati dan dipenuhi dalam kehidupan bisnis.
Macam-macam akad tersebut diantaranya :



  1. Al Musyarakah ( Kerjasama Modal Usaha)
          yaitu akad kerjasama usaha antara 2 pihak atau lebih dengan saling memberikan konstribusi dana dan pihak-pihak tersebut akan menanggung resiko dan keuntungan sesuai kesepakatan. Aplikasi dalam proses bisnisnya yaitu pembiayaan sebagian modal sebuah usaha yang dilakukan beberapa bank syariah terhadap nasabah yang ingin mengembangkan usahanya kemudian setelah selesai nasabah harus mengembalikan dana tersebut serta bagi hasilnya.
  
     2. Al Mudharabah (Kerjasama Mitra usaha dan investasi) 

        yaitu akad kerjasama antara 2 pihak dimana pihak pertama yang menyediakan semua modal sedangkan pihak lainnya hanya berperan sebagai pengelola (tidak ikut emberikan konstribusi dana). Aplikasi dalam proses bisnis yaitu sebuah bank syariah ataupun konvensional memberikan pinjaman modal kepada nasabahnya untuk membangun usaha baru atau pembiayaan sebuah proyek oleh lembaga keuangan syariah.

   3. Al murabahah (jual beli dengan pembayaran tangguh)

      transaksi jual beli dengan menggunakan harga pokok ditambah keuntungan yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh penjual kepada pembeli.

   4. Ba'is as salam ( Pesanan Barang dengan pembayaran di muka)

     yaitu kegiatan memesan barang dengan syarat yang telah ditentukan akan tetapi pembayaran dilakukan sebelum barang diterima. Aplikasi dalam proses bisnis yaitu maraknya bisnis online, pembeli hanya memesan barang yang dinginkan kemudian membayar tagihan sebelum barang diterima.

    5.  Ba'i al istishan ( Jual beli berdasarkan pesanan)

       yaitu kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang melalui pesanan, pembuat barang berkewajiban memenuhi pesanan pembeli sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati. Pembayaran dapat dilakukan di muka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai batas waktu yang telah ditentukan.  


    6.  Al Ijarah (Sewa/ Leasing)
      Al Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (Ownership) atas barang itu sendiri. Dalam perkembangannya kontrak Al Ijarah  dipadukan dengan kontrak jual-beli yang dikenal dengan istilah “sewa-beli” yang artinya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang oleh si penyewa pada akhir periode penyewaan. Aplikasi dari akad ini dalam proses bisnis yaitu contohnya produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah) beberapa bank baik syariah maupun konvensional. 
7.  Qard Al  Hasan (Pinjaman Kebajikan)
     Qard adalah akad yang dikhususkan pada pinjaman dari harta yang terukur dan dapat ditagih kembali serta merupakan akad saling Bantu-membantu dan bukan merupakan transaksi bisnis secara komersial.
     Salah satu fungsi Lembaga Keuangan Syariah adalah ikut serta dalam kegiatan sosial, yang diaplikasikan dengan menyalurkan dana dalam bentuk qard dari dana yang dihimpun dari hasil zakat, infaq, dan sadaqah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam proses bisnis syariah ada beberapa akad yang sudah diaplikasikan oleh beberapa proses bisnis baik secara syariah itu sendiri maupun konvensional . Selain itu, sistem syariah mempunyai produk yang jauh lebih lengkap dari Lembaga Keuangan yang berdasarkan ekonomi Konvensional, karena semata-mata hanya menggunakan akad pinjam meminjam dan mengandalkan pendapatannya dari nilai waktu atas uang yang dipinjamkannya kepada nasabah (debitur) bank tersebut.





Referensi : www. bankirnews.com
                     written by fahmualamiq (10, April 2012)
                     Hendi Suhendi. 1997. Fiqh Muamalah. Bandung : Gunung Djati Press.



Sabtu, 22 September 2012

differences of islamic Business Process and Conventional Business Process

In this period, everyone would have known the business process, whether it is Islamic or conventional. But still many are difficult to distinguish. In this blog, I want to give my opinion about which is better between Islamic Business Process and Conventional Business Process.


Sebelum mengetahui apa saja perbedaan yang terdapat dalam proses bisnis syariah dan konvensional kita harus mengetahui dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan proses bisnis. Proses bisnis adalah suatu pekerjaan yang saling terkait untuk menyelesaikan masalah tertentu. Pekerjaan yang dimaksud dalam hal ini adalah tugas yang menghasilkan keuntungan, bisa jadi keuangan atau sebaliknya. Jadi yang dimaksud dengan proses bisnis syariah adalah suatu pekerjaan yang saling terkait untuk menyelesaikan masalah tertentu yang berasaskan nilai – nilai tauhid (nilai ketuhanan) sehingga menghasilkan keuntungan. Sedangkan proses bisnis konvensional adalah pekerjaan yang saling terkait untuk menyelesaikan masalah tertentu yang berasaskan nilai – nilai Sekularisme (Nilai-nilai material) sehingga menghasilkan keuntungan.

Berdasarkan pengertian diatas ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan diantara proses bisnis syariah dan konvensional, diantaranya :
  • Proses bisnis syariah
  1. Proses Bisnis syariah memiliki pemahaman terhadap bisnis yang halal dan haramSehingga dalam proses bisnis syariah tidak mengenal adanya riba ( yang dalam hukum islam bersifat haram ) tetapi sistem bagi hasil.
  2. Proses bisnis syariah selalu didahului akad/perjanjian dalam pelaksanaannya. Akad memegang peranan yang sangat penting.  Akad disini bertujuan untuk membuat kesepakatan yang saling menguntungkan.
  3. Proses bisnis syariah dilaksanakan sesuai dengan kaidah islam yang telah ditentukan dan didasari motivasi mencari keuntungan di dunia dan akhirat.. 
  • Proses bisnis konvensional
  1. Dalam Proses Bisnis Konvensional motivasi dalam kegiatan berbisnis didasari oleh keinginan dunia tanpa memperhatikan akhirat.
  2. Dalam pelaksanaan proses bisnis konvensial tidak adanya kesepakatan (akad)/ perjanjian yang jelas antara pelakunya. Sehingga tidak ada pandangan yang sama dan terkadang sering menyebabkan keuntungan hanya pada satu pihak saja
  3. Dalam Proses pemasaran bisnis konvensional menghalalkan segala cara, bukan hanya cara halal tapi juga cara yang tidak halal untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Berdasarkan pemaparan diatas,  kita dapat menilai proses bisnis mana  yang lebih baik bagi semua aspek.  Untuk lebih memahami proses bisnis syariah,  saat ini kita dapat mengamatinya dengan dimulainya sistem bank berbasis syariah,  asuransi berbasis syariah ataupun beberapa perusahaan lainnya yang juga berbasis syariah. 

Jumat, 14 September 2012

What is a business process?


At the present time, all of the business processes that have not been run in accordance with the terms of the actual business process. The things that do not fit that instead of accelerating the achievement of the objectives of the business process but creates a new problem is more complex
thus the need for improvements to turn back the actual business processes. One of the simplest fixes are changing the way we think about the business processes that are running the actual business processes for the purpose of a business process is running as expected. for it will be explained in this blog about understanding the actual business processes and some of the terms in the business process itself which will be needed to carry out business processes.


  • Definition of business process

The business process is an interrelated work to solve specific problems. The work in question in this case is a task that generates profits, could be financial or otherwise. A business process can be broken down into several sections has its own process, but basically every piece should have a role to achieve the ultimate goal of the process itself. Meanwhile, according Manganelli & Klein (1994), the business process is defined as: "Interrelated series of business activities that convert inputs into outputs business". ADD can be material, equipment, other measurable objects, or various kinds of information which is then converted into a number of output required by the recipient. The receiver is divided into internal customers (internal consumer) and external customers (external consumer). Consumers may be internal departments, groups, or the number of equipment and machinery. Meanwhile, outside the consumer is the person or organization that pays for the product or service required. Additionally receiver can also be a location where the output is stored for future needs.


Activities are divided into three types (Manganelli & Klein, 1994), namely:

  1. Value-adding activities are activities that are important to consumer
  2. Hand-off activities are activities that do more than one piece and have a flow-related activities between divisions, both in function, department or organization
  3. Control activities are activities designed to control the hand-off process activities can be grouped into two, namely: strategic process and a process that adds value. Strategic processes integrated with how the company defines itself. The process that adds value is an important process for the wants and needs of consumers and they are willing to pay for it.
pro_02


  • How Business Process Modeling:

  1. Define the purpose, scope, and limitations
  2. Understanding and mapping the processes running 
  3. Measuring process performance
  4. Determine the root cause (root cause)
  5. Identify process improvement (Use the method ESIA):
  6. The implementation of business process improvement


  • Characteristics that must be owned by the business process are:

  1. Definitive: A business process must have limits, input and output pins.
  2. Sequence: A business process activity must have an ordered according to their time and space.
  3. Consumers: A business process must have a process result receiver.
  4. Value added: The changes that occur in the results of the process must add value to the recipient.
  5. Linkage: A process can not stand alone, but must be related to the structure of the organization.
  6. Cross function: a process generally includes several functions.


               written by : Komunitas Berbagi Ilmu Pengetahuan Informasi dan Bisnis (June 28, 2009)
                http://pipiew.wordpress.com/2007/11/29/proses-bisnis/
               written by : Alivia Yulfitri ( November 29, 2007)
                written by : Adi Nuralim (February 9, 2011)